Kapolres: Waspada Hoaks, Saring Dulu Baru Sharing

oleh -Dibaca oleh 153 Warga NU
Kapolres: Waspada Hoaks, Saring Dulu Baru Sharing

Lumajang – Kapolres Lumajang AKBP. DR. Muhammad Arsal Sahban SH., SIK., MM., MH mengatakan hoaks sangat berbahaya dalam keamanan dan keberlangsungan bernegara.

“Presiden Afganistan berpesan kepada kita agar waspada terhadap Hoaks yang beredar, karena negara mereka ricuh karena hoaks, akhirnya bunuh-bunuhan, padahal sesama agama,” kata Kapolres Lumajang saat memberikan Sambutan pada Acara Isra’ Mi’raj dan Harlah NU ke-96 di gedung NU Lumajang, Rabu (3/4/2019).

Arsal menambahkan belakangan ini semakin banyak hoaks yang berkeliaran di medsos yang menjadi lahan tersebarnya hoaks terbesar.

“Pengguna Medsos di Indonesia sekitar 40% dari seluruh penduduk. Dan kita tiap hari membukanya, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi tidak lepas dari Medsos”, lanjut Arsal.

Menurut Arsal, maraknya hoaks yang beredar dikarenakan memang di produksi, karena memang banyaknya permintaan, sehingga menjadi lahan bisnis bagi penyedia jasa tersebut.

“Menurut Data orang bisa mendapatkan 1 Milyar dalam Setahun dari Satu Akun,” jelas Kapolres.

Penyebar Hoaks menurut Arsal, biasanya menggunakan akun-akun palsu. Jika targetnya laki-laki maka menggunakan gambar perempuan yang cantik agar menarik, begitupun sebaliknya.

“Daerah terpapar Hoaks biasanya adalah daerah yang sangat kental agama, terbiasa dengan dogma, jadi harus dipercayai tidak usah di tanya. Itu yang menyebabkan Hoaks mudah di terima”, tambah Arsal.

Kapolres Lumajang juga menyampaikan trik agar tidak mudah terkena hoaks. Salah satunya adalah masyarakat harus meningkatkan rasa kritis terhadap berita yang ada, jangan ditelan mentah-mentah.

“Selain itu, Masyarakat harus saring dulu sebelum Sharing. Aktiflah bertanya kepada yang ahli dalam masalah hal tersebut. Seperti masalah keputusan Munas NU tentang Kafir yang kemudian di goreng, dan menjadi banyak hoaks”, lanjut Arsal.

Arsal juga berterima kasih terhadap Nahdlatul Ulama dan tokoh-tokohnya yang tetap meneguhkan persatuan dan toleransi dan tidak berbau radikal dalam berdakwah.

“Ulama dan Umaro harus bersatu yang merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan, tetapi mempunyai tujuan sama”, pungkas Arsal. (sim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *