Alissa Wahid: Gusdur Bukan Pembela Minoritas

oleh -dibaca 131 orang
Alissa-Wahid-Gusdur-Bukan-Pembela-Minoritas

Lumajang, NU-Lumajang.or.id – PCNU Lumajang, Gusdurian Lumajang dan PC Lesbumi NU Lumajang dalam rangka memperingati Haul Gusdur yang ke-9 mengadakan Talkshow yang bertemakan: “Yang Lebih Penting Dari Politik adalah Kemanusiaan“.

Talkshow yang dilaksanakan di Gedung NU Lumajang di jalan Musi 9, Sabtu (5/1) diisi oleh Alissa Qotrun Nada Muwawaroh, putri pertama Gusdur.

Dalam Talkshow yang di moderatori oleh Ikhwanul Muttaqin, M.Pd.I tersebut, Alissa menjelaskan alasan kenapa memakai tema tersebut dalam Haul ke-9 Presiden Indonesia ke-4 kali ini.

“Tema tersebut merupakan kata-kata yang pernah diucapkan Bapak (Gusdur, red), dan kebetulan tahun ini adalah tahun politik”, jelasnya.

Menurut Dia pada tahun politik ini, jejak kepemimpinan Gusdur menjadi kajian yang sangat menarik untuk kembali diingat.

“Kita membutuhkan politik kemanusiaan. Disanalah jejak Gus Dur ditemukan setelah Beliau menjabat sebagai presiden,” kata dia.

Baca Juga: Gus Mas’ud: Jasad Gus Dur Bersemayam di Jombang, Tapi…

Baca Juga:  Banyak Wanita Muda Belum Benar Mandi Besar, Cak Thoriq: Ini Tugas Fatayat NU

Wanita yang sangat akrab disapa Neng Alissa mengawali talkshow dengan membacakan Puisi tentang Gusdur, kemudian menceritakan sejumlah peristiwa tentang kepemimpinan Gus Dur yang menjadi contoh dari politik yang memiliki nilai kemanusiaan.

“Saat sebagai Presiden, Beliau berkunjung ke Timor Leste pada tahun 2001. Saat di sana, masyarakat Indonesia masih marah atas lepasnya Timor timur dari Indonesia, tetapi Gus Dur kemudian meminta maaf kepada Timor Leste atas sejumlah kekerasan yang pernah terjadi. Mengakui kesalahan dan menerima maaf merupakan cara untuk mengobati luka dan prasyarat menuju rekonsiliasi. Memaafkan bukan berarti melupakan, ” kata Alissa.

Lebih jauh, Alissa mengisahkan, ketika ada masyarakat adat dan orang rimba di hutan yang terancam tergusur, karena Hutan sebagai tempat tinggalnya akan di beli oleh para pemilik modal, maka Gus Dur mengambil sikap dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa hutan milik negara tidak boleh di jual, dan negara harus melindungi masyarakat adat yang ada didalamnya.

Baca Juga:  MWC NU Senduro Gelar Pelatihan Sablon Bendera NU

“Keppres itu akhirnya melindungi orang-orang rimba yang hidup di sana. Hal itu dilakukan karena mereka kan hidupnya berpindah-pindah,” kisah Alissa.

Baca Juga: Lawan Berita Hoax Tentang Banser, Cak Thoriq Sampaikan ini

Ketua Gusdurian Pusat ini juga menceritakan Gusdur dalam peristiwa Ahmadiyah.

“Ahmadiyah, saya tidak setuju dengan Anda, tapi Anda berhak melakukan ajaran agama sesuai dengan keyakinan Anda, karena dilindugi oleh Undang-undang. Dibagian itu yang bisa saya bela”. Tutur Alissa menirukan kata Gusdur.

Alissa juga meluruskan kesalahfahaman banyak orang tentang Gusdur orang yang menyatakan bahwa Gusdur adalah pembela minoritas.

“Gusdur Bukan Pembela Minoritas, tapi Gusdur adalah pembela masyarakat lemah. Kebetulan yang lemah itu yang minoritas,” tegasnya.

Hadir dalam acara tersebut Kyai dan Tokoh Struktural NU, Lembaga dan Banom NU,  Bupati Lumajang Cak Thoriq, Gus Aa’, Ketua PKB Lumajang (Anang Syaifudin), dan Pecinta Gusdur Lintas Iman. (sim)